Kamis, 21 Mei 2015

Sejarah Perkembangan Sastra Angkatan 45, 50 dan Angkatan 66



BAB III
PEMBAHASAN

1.1  Perkembangan Sastra Angkatan 45
Angkatan ’45 lahir pada saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Pada saat ini, perkembangan bahasa dan sastra Indonesia semakin maju pesat karena Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda. Sedangkan yang memberi nama Angkatan ’45 adalah Rosihan Anwar dalam majalah Siasat pada tanggal 9 Januari 1949. Rosihan memakai nama itu setelah mengemukakan bahwa “Kemerdekaan adalah syarat yang mutlak untuk perkembangan perkembangan kebudayaan yang sejati suatu bangsa” dan menarik kesimpulan “Oleh karena itulah untuk angkatan 45 menjadi penting sekali kemerdekaan itu”.
Angkatan 45 tidak mengabdi pada sesuatu isme, tapi mengabdi pada kemanusiaan yang mengandung segala yang baik dari sekalian isme. Mereka tidak berpikir dalam istilah istilah, tapi hidup dari pusat pribadi manusia. Dengan tidak menyebut dirinya nasionalis, atas dasar rasa kemanusiaan mereka berdiri dipihak bangsanya dengan tidak menyebut dirinya sosialis.
Angkatan 45 punya konsepsi humanisme universal. Berkata Asrul pada akhir 1945 “ Derita dunia adalah derita kita, karena itu adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia”. Selanjutnya pula “ Temuilah manusia dulu, tidak saja dengan pikiran, tetapi dengan kaki dan tangan, biarkan segala kelenjar dalam tubuh bekerja dan hormon hormon bertumpah dalam darah sebanyak banyaknya. Kita mesti berani dulu memandang manusia sonder baju, sonder kegagahan, pretensi dan segala yang tidak kita temui dalam darah dan daging, dalam esensinya.
Pada periode 1942-1950 atau 1942-1945 adalah periode bangkit dan terintegrasinya sastra angkatan ini. Pada masa angkatan ini karya karyanya bersifat lebih realistik dibandin karya angkatan pujangga baru yang bersifat romantik, idealistik. Angkatan 45 diwarnai dengan adanya pengalaman hidup dan problem sosial, politik, budaya seperti korupsi, penyelewengan, ketidak adilan, dan kemerosotan moral.
A.    Patokan patokan Angkatan 45
Manifer angkatan 45 termuat dalam majalah siasat pada tanggal 23 oktober 1945berupa surat kepercayaan gelanggang 18 februari  1950 yang dapat dilihat patokan patokan angkatan 45 yaitu :
1.Wujud pernyataan fikiran lebih dipentingkan
2. Kepribadian seseorang hendaknya menjadi pegangan dan ukuran nilai mencipta
3. Nilai-nilai baru harus ditempatkan setelah nilai-nilai lama dihancurkan
4. Pencipta harus mempunyai kebebasan penuh dalam penciptaan pengarangnya
5. Tekanan difokuskan kepada kebudayaan dunia harus bersifat universal


B.     Sifat Kesusastraannya
Latar belakang lahirnya angkatan 45 ada dua hal yaitu kekejaman penjajahan,dan penderitaan akibat revolusi.Sifat kesusastraanya adalah :
1)      Isi cerita mengenai penderitaan rakyat yang diakibatkan oleh kekejaman penjajahan Jepang yang dilanjutkan oleh akibat perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan .
2)      Bentuk karangan kebanyakan berbentuk cerpen dan novel
3)      Bahasanya pendek-pendek tapi padat,agak kasar,kurang memperhatikan peraturan tata bahasa dan ejaan
4)      Bentuk puisi melahirkan bentuk baru yang meninggalkan segala peratuan persajakan yaitu disebut sajak bebas.Tema karangan adalah mengenai hal-hal yang semula dianggap tidak penting(cerpen tikus,celana pendek).Karangannya mendapat pengaruh dari para pujangga barat seperti pujangga Rusia,Amerika,Italia,Spanyol,Prancis,Inggris

C.    Ciri ciri angkatan 45
1.Bercorak realistis
2.Bertemakan patriotisme, revolusi dan perlawanan terhadap penjajah
3.Bahasa dalam prosa menggunakan bahasa yang ekonomis, kata-katanya padat, dalam, kalimatnya pendek-pendek
4.Prosa menggunakan gaya bahasa menyoal baru


D.  Toko Angkatan 45
1. Chairil Anwar
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – wafat di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku ) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Karya-karyanya :
•Deru Campur Debu (1949)
•Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
•Tiga menguak Takdir
 (1950)(dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
•"Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
•Derai-derai Cemara (1998)
•Pulanglah Dia Si Anak Hilang  (1948), terjemahan karya Andre Gide
•Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
2.  Asrul Sani
Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926 – wafat di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 77 tahun) adalah seorang sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958). Asrul adalah seorang penyair yang bicara dalam kiasan. Bahkan certa ceritanya adalah kiasan kiasan seperti pada cerita pendeknya “ Beri Aku Rumah” yang seluruhnya merupakan satu kiasan. Dan karena dia bicara dalam bahasa kiasan ini, maka sukar orang memahaminya.
Karyanya: Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai Avin, 1950), Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972), Mantera (kumpulan sajak, 1975), Mahkamah (drama, 1988), Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988), dan Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997).

3.Idrus
Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921 – wafat di Padang, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia.
Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu. Minatnya pada dunia sastra mendorongnya untuk memilih Balai Pustaka sebagai tempatnya bekerja.
Karya-karyanya yang terkenal yaitu :

Novel
• Surabaya
• Aki
• Perempuan dan kebangsaan
• Dengan Mata Terbuka
• Hati Nurani Manusia
• Hikayat Putri Penelope
• Hikayat Petualang Lima
• NJ mania KEBANTENAN

Cerpen
• Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
• Anak Buta

Drama
• Dokter Bisma
• Jibaku Aceh
• Keluarga Surono
• Kejahatan Membalas Dendam

Karya Terjemahan
• Kereta Api Baja
• Roti Kita Sehari-hari
• Keju
• Perkenalan dengan Anton Chekov
• Cerita Wanita Termulia
• Dua Episode Masa Kecil
• Ibu yang Kukenang
• Acoka
• Dari Penciptaan Kedua




4.Mochtar Lubis

Mochtar Lubis (lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 – wafat di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama sama kawan kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku catatan subversif.
Karya-karya populernya :
• Tidak Ada Esok (novel, 1951)
• Jalan tak ada ujung (novel, 1952)
• Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
• Teknik Mengarang (1951)
• Teknik Menulis Skenario Film (1952)
• Harimau-Harimau! (1977)
• Harta Karun (cerita anak, 1964)
• Tanah Gersang (novel, 1966)
• Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
• Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
• Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
• Manusia Indonesia (1977)
• Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
• Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
• Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)
Terjemahannya:
• Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
• Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
• Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
• Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
• Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953
 



1.2  Perkembangan Sastra Angkatan 50
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya. Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960 menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Pada tahun-tahun yang lalu belum ada penegasan tentang adanya angkatan ’50. H.B. Jasin belum menyebutkan Angkatan ’50, sedangkan Slamet Muljono berpendapat bahwa sastrawan Angkatan ’50 hanyalah pelanjut (successor) saja, karena beliau menganggap bahwa sastra Indonesia lahir pada tahun 1945 (Indonesia Merdeka).
A.    Karakteristik Angkatan 50
1.      Menunjukan sastra nasional Indonesia yang ditunjukan dalam puisi yang bertema kebudayaan daerah.
2.      Keindahan puisi sudah dimulai didasarkan pada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan ukuran nasional.
3.       Memantulkan kehidupan masyarakat yang masih harus terus berjuang dan berbenah di awal-awal masa kemerdekaan.
4.      Disebut juga Generasi Kisah (nama majalah sastra).
5.      Di masa ini sastra Indonesia sedang mengalami booming cerpen.
6.      Juga marak karya-karya teater dengan tokohnya Motenggo Boesye, Muhammad Ali Maricar, W.S. Rendra (sekarang Rendra saja).
7.      Mulai tumbuh sarasehan-sarasehan sastra terutama di kampus-kampus.
8.       Pusat kegiatan sastra telah meluas ke seluruh pelosok Indonesia tidak hanya terpusat di Jakarta atau Yogyakarta;
9.      Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra nasional Indonesia;
10.  Nilai keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan pada kekuasaan asing, tetapi kepada peleburan antara ilmu dan pengetahuan asing berdasarkan perasaan dan ukuran nasional.


B.     Tokoh Angkatan 50

1.      W.S RENDRA
Rendra yang semula nama lengkapnya Willibrodus Surendra Broto yang lahir di Solo tanggal 7 Nopember 1935. sajaknya yang pertama menarik karena kesederhanaan dan kekayaan imajinasinya. Sajak itu kebanyakan berupa etika, berlainan dengan umumnya sajak indonesia pada masa itu yang kebanyakan berupa lirika. Kesederhanaan sajak-sajak Rendra bukan hanya dalam pemilihan kata saja, tetapi juga pemilihan materinya. Selain menulis saja Rendra pun banyak menulis cerpen. Dalam eksperimennya dalam dunia teater, Rendra memperkenalkan improvisasinya yang merupakan teater yang mau lepas dari sastra yaitu dengan sesedikit mungkin memakai percakapan.
Karya :
-    Balada Orang-orang Tercinta (1957)
-    4 Kumpulan Sajak (1961)
-    Ia Sudah Bertualang (1963)

2.N.H DINI
N.H Dini lahir di Semarang tanggal 29 Februari 1936, mulai menulis cerpen yang dimuat dalam majalah kisah dll. Dalam cerpennya Dini menunjukkan perhatian yang besar terhadap kepincangan sosial yang dia lihat dan terjadi di sekelilingnya. Misalnya dalam cerpennya yang berjudul ‘Kelahiran’ dan ‘Perempuan Warung’. Dini kemudian menikah dengan diplomat Prancis mengikuti suaminya Ia pernah lama tinggal di Jepang, dan antara lain menulis sebuah roman pula yang fragmennya pernah di umumkan dalam majalah. Roman itu berjudul ‘Namaku Hiroko’
Karya :
-    Dua Dunia (1956)
-    Pada Sebuah Kapal
-    Namaku Hiroko
-    La barka



1.3  Perkembangan Sastra Periode Angkatan 66

Angkatan 66 adalah suatu generasi baru yang melakukan   pendobrakkan yang disebabkan oleh penyelewangan-penyelewengan yang besar-besaran yang membawa Negara ke jurang kehancuran. Timbulnya hal tersebut diakibatkan karena adanya nafsu pribadi dan tindakan tanpa ada perhitungan baik dalam politik, ekonomi, maupun kebudayaan, sehingga masyarakat yang mengalami keruntuhan spiritual dan material demikian Iskandarwssid (1998).
Secara politis Angkatan 66 terlahir dari pergolakan dalam maasyarakat. Kelahirannya adalahsuatu peristiwa politik. Tapi di samping ukuran politik, di bidang kesusastraan ia mempunyai ukuran nilai, yaitu nilai kesusastraan.
       Menurut HB Jassin  yang termasuk angkatan 66 adalah mereka yang tatkala tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun dan baru masuk sekolah rakyat, jadi mereka yang tahun 1966 kira-kira berumur 25 tahun. Mereka itulah yang giat menulis dalam majalah Sastra dan Kebudayaan sekitar tahun 1955-an,  seperti Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia Budaya Indonesia, Konfrontasi, Cerita Prosa, Sastra dan Basis. Menurut HB Jasin angkatan 66 bukan hanya mereka yang menulis sajak-sajak pada permulaan tahun 1966, tetapi juga mereka yang telah tampil beberapa tahun sebelumnya juga termasuk. Peristiwa penting yang terjadi di Indonesia yaitu ada dua, pertama tahun 1945 dan kedua tahun 1966.
Tahun 1945 merupakan momentum kemerdekaan sebagai yang dilontarkan Chairil Anwar yang berontak tehadap penjajahan Jepang tahun 1943 dengan Aku ini Bintang Jalang dan kedua angkatan 66 dengan momentum menegakkan keadilan dengan kejadian para penyair dan para cendikiawan yang timbul suatu ledakan pemberontakan karena sekian lama dijajah jiwanya dan diberikan janji-janji muluk. Angkatan 45 menjadikan dua sumber ilhamnya dan mengutarakan sikapnya, sedangkan angkatan 66 mempunyai nilai- nilai baru dalam kebudayaan daerah agar masuk ke tingkat nasional. Angkatan 45 terlahir dari politik tetapi  tidak mengitungkan politik, sehingga dengan meninggalnya pelopor utamanya angkatan 45 menjadi kucar-kacir mencari jalan sendiri sendiri. Menurut Emil Salim angkatan 45 memberontak terhadap rezim bangsa sendiri.
A.    Karakteristik Angkatan ‘66
Generasi ’66, yaitu suatu generasi baru yang melakukan pendobrakan terhadap penyelewengan besar-besaran yang membawa negara ke jurang kehancuran. Pada tahun 1966 terjadi suatu ledakan pemberontakan dari penyair, pengarang dan cendekiawan yang telah sekian lama  dijajah jiwanya oleh semboyan-semboyan atau slogan-slogan yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.  Tugas angkatan ’66, ialah membela Pancasila dan menjaga jangan sampai timbul lagi tirani, demi mengisi revolusi guna mencapai soisalisme Indonesia. Dapatlah dicatat nama-nama: Ajip Rosidi, Rendra, Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, A A.Navis, Idris.

Ciri kebudayaan angkatan 66 tidak terlepas dari sebab-sebab timbulnya angkatan itu sendiri  yaitu kebebasan, keadilan, kebenaran, dan keutuhan. Masa 1966-1970 didominasi oleh karya yang  beraliran realism sosial kanan.
      Kesimpulan lahirnya angkatan 66 disebabkan:
1.  Karena  politik dan memperhitungkan politik
2.  Karyanya bernadakan keadilan
3.   Menegakkan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
4.    Lahir dari akibat penindasan gak asasi manusia
5.   Berorientasi ke dalam negeri
6.   Karyanya bersifat reasitas, naturalita, dan eksistensialitas
7. Merupakan wadah untuk para sastrawa, ahli kebudayaanl, seniman, dan pelukis.




B.     Tokoh Angkatan 66
1.      Ajip Rosidi
2.      Mohamad Ali
3.      Toto sudartos
4.      Alexander Leo
5.      Toha Muchtar
6.      Trisnoyuwono
7.      AA Navis
8.      Yisach Ananda
9.      Haryoto Andang
10.  Ardan
11.  A Bastari Astin




DAFTAR PUSTAKA
Jassin, H.B. 1985. Kesusatraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Esai II. Jakarta :  PT Gramedia.
Jassin, H.B. 1988. Angkatan 66 Prosa Puisi Jilid 1. Jakarta : PT Karya Unipress.
www.Rumpunnektar.com/2013/01/sejarah-singkat- perkembangan-sastra.html
vickyarieska.blogspot.com/2012//03/perkembangan sastra menurut zaman.html
aldikarestupramuli.wordpress.com/2009/12/30/sejarah perkembangan sastra indonesia/
deveslam.blogspot.com/2012/09/sastra indonesia periode 1950an.html/
liliezsticcerzgurujugapunyacitacita.blogspot.com/2013/03/sastra angkatan 66 an dan sastra.html
ilmuwanmuda.wordpress.com/perkembangan berbagai bentuk sastra indonesia/



1 komentar:

  1. Betway Casino - Dr.CMD
    In this Casino, you can bet on sports, play casino games, and get live casino 대구광역 출장샵 games in your browser. You 영천 출장샵 can also bet with our mobile 천안 출장안마 app. Betway Casino. Deposit. Rating: 아산 출장샵 2.3 여주 출장샵 · ‎43 reviews

    BalasHapus